Senin, 03 Juni 2013

hukum "KARMA" dalam Islam

Istilah “karma” adalah istilah yang bersumber dari ajaran agama Buddha yang sudah cukup populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Bukan cuma karma, kata “dosa” juga merupakan terminologi agama Buddha yang salah satu artinya adalah ‘kejahatan’, dan kata “pahala”yang berasal dari bahasa Sansekerta “phala”, juga berasal dari istilah agama yang artinya ‘hasil’. Karma itu sendiri juga bisa berarti ‘hukum sebab akibat’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Dalam ajaran Buddha ada yang disebut karma phala, yakni bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Yang baik akan mendatangkan hasil baik, yang buruk akan mendatangkan hasil yang buruk. Sampai batas pengertian seperti ini, dalam ajaran Islam pun ada konsep karma. Yaitu bahwa orang yang berbuat baik akan mendapatkan akibat baik dari perbuatannya (pahala, surga), dan orang berbuat buruk akan mendapatkan balasannya pula (dosa, siksaan di neraka). Dalam hal ini, Allah berfirman: Maka barang siapa berbuat kebaikan, walau sebesar dzarrah pun, dia akan melihat (hasil, balasan, pahala)-nya; dan barang siapa berbuat keburukan, walau sebesar biji dzarrah pun, dia akan melihat (hasil, ganjaran, balasan)-nya (pula). (QS az-Zilzalah [99]: 7-8). Dalam ayat lain Allah berfirman: Jika kamu berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik untuk diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk, maka (akibat dari perbuatan buruk itu kembali) untuk diri kamu sendiri. (QS al-Isra’ [17]: 7). Dan masih ada beberapa ayat lain yang senada.
Tetapi kalau karma itu diartikan sebagai dosa keturunan, bahwa anak cucu kita akan ikut merasakan akibat buruk atau dosa dari perbuatan buruk yang kita lakukan, itu tidak ada dalam ajaran Islam. Dalam hal ini, Allah swt. berfirman: Dan seorang jiwa (manusia) tidak menanggung dosa (jiwa atau manusia) yang lain. (QS Fathir [35]: 18). Artinya, masing-masing orang menanggung dosanya sendiri-sendiri. Tetapi, ini pun tidak berarti bahwa jika ayah kita berbuat dosa, lalu kita memohon ampun untuk beliau, permohonan ampun itu tidak berarti apa-apa. Berdasarkan banyak ayat dan hadits Nabi, permohonan ampun seperti itu dapat menjadi salah satu penyebab Allah mengampuni dosa seseorang.

QS Al Baqarah (2) : 42 Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. 

Sebenarnya didalam Hukum Islam tidak ada nama Istilah KARMA karena Allah sendiri Berfirman Dalam Al Quran 

Q.s 35:18. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1252]. 

Q.s 6:164 dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain 

Q.s 53: 38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, 

Sesungguhnya istilah hukum karma/karmaphala tidaklah dikenal dalam syari’at Islam karena istilah yang demikian ini adalah istilah di dalam ideologi pokok/keyakinan/aqidah agama dharma. Oleh karena itu tidak selayaknya kita bertaqlid mengaminkan kesimpulan beliau bahwa hukum karma diakui keabsahannya oleh Islam kecuali setelah kita mengetahui secara ilmiyah hakekat hukum karma itu sendiri. 

Allah Ta’ala berfirman: 

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا 

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban.” (QS. Al-Isra’: 36) 

Maka kami akan membawakan definisi dan kedudukan penting aqidah hukum karma dalam pandangan pemiliknya (Hindu dan Budha) agar seorang muslim yang mencintai Allah Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memiliki kecemburuan terhadap Dienul Islam bisa membandingkannya dengan tindakan gegabah dan (maaf) ngawur serta sembrono yang mengaitkan keyakinan batil dan sesat tersebut dengan dienul Islam yang sempurna. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakannya. 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah: 3)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.“ (Ali Imran:19)

*dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates